Pentingnya Deteksi dan Intervensi Dini Bersumber Daya Keluarga

Oleh R. Fachmy Faisal M.Pd.

(Penulis adalah praktisi Pendidikan Inklusif yang telah aktif selama 8 tahun di Bidang Pendidikan Khusus baik formal maupun non formal, 5 Tahun sebagai Konsultan dan Layanan Anak BerkeButuhan Khusus, aktif sebagai Asesor di Assessment Center Kota Bandung Divisi Asesor Inklusif)

Perkembangan anak adalah suatu proses berkelanjutan. Keberhasilan dalam mencapai suatu tahap perkembangan akan sangat menentukan keberhasilan dalam tahap perkembangan berikutnya. Sebaliknya, apabila ditemukan adanya satu proses perkembangan yang terhambat atau terganggu, maka akan ada pengaruh terhadap optimalisasi perkembangan pada tahap perkembangan berikutnya.

Masa kanak-kanak adalah masa emas yang tidak dapat terulang kembali, masa dimana berkembangnya seluruh aspek perkembangan anak. Namun, kemampuan anak dalam pertumbuhan maupun perkembangan tidak dapat muncul begitu saja. Ada proses atau tahapan-tahapan yang harus dilaluinya yang didalamnya diperlukan stimulus-stimulus dari lingkungan untuk mendukung perkembangan secara optimal.

Menurut Jhon Locke dalam Teori tabularasa mengemukakan bahwa akal tidak berarti apa-apa bila tidak dirangsang oleh pengalaman inderawi manusia, artinya seorang anak yang lahir tidak mampu untuk berpikir kritis dan metodologis, akan tetapi kemampuannya untuk berpikir seperti itu justru terjadi pada saat seorang anak itu tumbuh menjadi dewasa dan telah banyak menerima rangsangan dari pengalaman indrawinya.

Sejalan dengan teori diatas menurut Maria Montessori mengemukakan bahwa suatu fase-fase di awal sangat berpengaruh terhadap fase kehidupan selanjutnya kesimpulannya adalah bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan anak tersebut dan dari rangsangan atau perlakuan yang anak terima.

Keluarga menjadi tempat belajar anak untuk mengukir pengalaman karena waktu dan ikatan emosional anak terhadap orangtua memiliki nilai yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan lingkungan di luar keluarga. Dalam hal ini bahwa orangtua memiliki peran yang sangat penting dan mendasar bagi perkembangan anak pada saat anak dalam kandungan hingga menjadi dewasa.

Rangsangan atau stimulus akan menjadi bekal terhadap keberhasilan perkembangan anak. Menurut penelitian Osbora, White dan Bloom Mengemukakan bahwa perkembangan intelektual manusia pada usia empat tahun sudah mencapai 50%, usia 8 tahun 80%, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100%. Berdasarkan penelitian tersebut maka usia dini adalah masa golden age yang harus dioptimalkan karena sebagaian besar perkembangan otak anak didominasi pada masa tersebut yakni mencapai 80%. Perkembangan pada usia dini berjalan sangat cepat bahkan lebih cepat daripada usianya setelahnya. Hal ini dikarenakan sel-sel neuron dalam otak akan berkembang sangat optimal jika mendapat stimulus-stimulus dari lingkungan.

Setiap anak mengalami fase perkembangan tetapi tidak setiap anak mengalami perkembangan normal. Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya, baik segi fisik, kognitif, komunikasi, emosi sosial, dan perilaku adaptif,  atau gabungan dari segi-segi tersebut  mengalami gangguan atau hambatan, kelambatan, atau memiliki faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Bagi kelompok ini, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan atau hambatan dan  menjadikan mereka sebagai anak berkebutuhan khusus, intervensi dini menjadi sangat penting.

Kegiatan Intervensi dini menjadi sangatlah penting bagi anak yang mengalami hambatan perkembangan, intervensi dini adalah suatu kegiatan penanganan segera terhadap adanya keterlambatan perkembangan yang dialami oleh anak. Intervensi dapat membantu meminimalisir dampak dari hambatan perkembangan seperti yang disampaikan Feldman “Early intervention comprises a set of supports, services, and experiences to prevent or minimize long-term problems as early as possible”

Bluder mengemukakan bahwa “For children with dissabilities, the earlier a child is identified as having a developmental delay or disability, the greater likehood the child will benefit from intervention strategies designed to compansate for the child’s need. semakin dini intervensi diberikan, diharapkan memberikan manfaat yang lebih baik dalam mengatasi dampak dari hambatan perkembangan yang dialami anak tersebut.

Intervensi dini yang berfokus pada keluarga menekankan pada pemberian dukungan terhadap keluarga untuk dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang mengalami hambatan perkembangan. Sehingga menjadi peran keluarga dalam intervensi dini menjadi hal yang sangat penting.

Orangtua merupakan orang pertama yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan tumbuh kembang anak. Sejalan dengan pernyataan dengan Individual with Disabilities Education act Amandemen (1997) yang menyatakan orangtua adalah fokus utama dalam meningkatkan perkembangan komunikasi, kognitif, sosial, emosional dan motorik anak. Selain itu pendidikan yang paling pertama adalah orangtua oleh sebab itu orangtua sangat perlu memiliki kemampuan secara pengetahuan dan keterampilan mengenai bagaimana cara mendidik dan memberi stimulus terhadap perkembangan dan pendidikan anak.

Peran keluarga dalam pelaksanaan, orangtua dan praktisi harus sepaham bahwa tidak ada intervensi yang akan merugikan anak, sebaliknya mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan, kemudahan dan pengalaman baru dari pelaksanaan intervensi yang dilakukan. Selain itu peran keluarga dalam rumah sebagai lingkungan yang paling suportif untuk melakukan intervensi dini terhadap anak dijelaskan dalam teori ekologi milik Brofenbrener yang berpokus dalam konteks-konteks sosial tempat anak-anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan mereka. Oleh karena itu keluarga memerlukan perhatian dan bantuan untuk dapat mengembangkan potensi masing-masing anggota keluarga agar menjadi keluarga yang paling suportif dalam melakukan intervensi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *